GHOSTING: TINDAKAN NORMAL ATAU KEKEJAMAN EMOSIONAL?

Kalian pernah ga sih merasa intens berkomunikasi dan menjalin relasi dengan seseorang tapi kemudian orang tersebut pergi tanpa alasan yang jelas dan terkesan mendadak?

atau jangan-jangan kamu sendiri yang begitu ke orang lain?

Sebenarnya, apa sih itu ghosting?

Istilah ghosting sebenarnya sudah lama diciptakan lho. Dalam Oxford Dictionary, ghosting dijelaskan sebagai praktik mengakhiri hubungan pribadi dengan seseorang dengan tiba-tiba menghentikan semua komunikasi tanpa penjelasan. Istilah ini muncul ketika aplikasi kencan online mulai marak digunakan. Komunikasi via media elektronik melalui aplikasi kencan online seperti tinder, tantan, bumble dan sebagainya membuat beberapa orang lebih mudah untuk memutuskan koneksi dengan seseorang yang awalnya kerap dihubungi lewat aplikasi tersebut. Namun, ghosting ini tidak hanya terjadi dalam ranah hubungan romansa, ghosting bahkan sudah menjadi fenomena umum yang hampir dinormalisasi dalam lingkungan sosial bahkan dalam ranah profesional sekalipun. Tingkatan ghosting sendiri dibagi dalam tiga tingkatan mulai dari ringan hingga berat, tingkatan ini diantaranya:

  1. Ghosting ringan, ini adalah tingkatan ketika seseorang yang tidak terlalu dekat dengan kalian tidak membalas pesan atau telepon.
  2. Ghosting sedang, ketika kalian sudah beberapa kali bertemu dengan seseorang, namun ia tiba-tiba menghilang
  3. Ghosting berat, ketika relasi atau hubungan kalian dengan yang bersangkutan sudah ada dalam tahap yang intens namun dia tiba-tiba menghilang tanpa sebab.
Kenapa orang-orang bisa melakukan tindakan ghosting?

Nah, beberapa orang melakukan ghosting umumnya untuk menghindari konfrontasi dan sebagian lainnya melakukan ghosting karena alasan lain seperti kehilangan rasa nyaman, tidak merasa aman dalam menjalin hubungan, dan juga merasa kehilangan ketertarikan. Apapun alasannya, dapat disimpulkan bahwa ghosting merupakan tindakan dimana seseorang tidak mampu mengutarakan apa yang dirasakan untuk menjaga sebuah komitmen.

Benarkah ghosting merupakan kekejaman emosional?

Ghosting memang dapat dikatakan sebagai sebuah kekejaman emosional karena memberi dampak yang buruk bagi korbannya. Ghosting membuat korbannya merasa ditinggalkan oleh individu yang dalam beberapa waktu lalu dekat dengannya, korban ghosting kemungkinan akan merasakan bahwa dirinya mengalami penolakan hingga berimbas pada kemungkinan kehilangan rasa percaya diri. Jika tindakan ghosting dilakukan dalam ranah hubungan profesional, tentunya akan berimbas pada gagalnya pemenuhan tujuan dari relasi profesional yang telah dimulai. Namun, perlu kalian tahu bahwa ghosting tidak hanya berimbas pada emosional seseorang lho, beberapa penelitian menyebutkan bahwa penolakan sosial dari siapapun bisa mengaktifkan rasa sakit di otak yang sama parahnya dengan sakit fisik. Hayoloh, kalau sudah begini masihkah kalian berniat melakukan tindakan ghosting?

Kalau sudah terlanjur menjadi korban ghosting apa yang bisa dilakukan?

Cara utama dalam menangani perasaan sakit setelah mengalami tindakan ghosting adalan penerimaan terhadap situasi yang dialami. Berikan waktu bagi diri sendiri untuk menerima kenyataan atas situasi yang terjadi, kemudian tolong jangan menyalahkan diri sendiri ya, ingat bahwa ketika seseorang melakukan tindakan ghosting ke kalian, bukan berarti ada yang salah dalam diri kalian. Namun, jika kalian merasa bahwa rasa sakit dari tindakan ghosting ini berimbas pada kesehatan mental yang serius dan mengganggu kehidupan sehari-hari, tidak adanya salahnya jika kamu berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater. 

Jadi, jangan normalisasi tindakan ghosting ya! Ingat bahwa mengakhiri sesuatu tanpa kepastian merupakan bentuk ketidakdewasaan emosional atas rasa tidak mampu melakukan komunikasi yang baik, yuk kita sama-sama belajar saling menghargai dalam relasi apapun yang kita jalani

"Focus on your progress, let God decide the rest"
Lilik
Penulis

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *